Friday, September 24, 2021
Home PRANALA Awal Pekan Bursa Asia Dibuka Melemah, Nikkei Melesat Sendiri

Awal Pekan Bursa Asia Dibuka Melemah, Nikkei Melesat Sendiri

Jakarta, CNBC Indonesia – Mayoritas bursa Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (26/7/2021), karena investor global cenderung kembali melirik pasar saham Amerika Serikat (AS) seiring membaiknya bursa Wall Street dan katalis positif dari musim rilis laporan keuangan AS pada kuartal kedua tahun 2021 yang cukup menggembirakan.

Hanya indeks Nikkei Jepang yang dibuka menguat, bahkan melesat pada hari ini. Indeks Nikkei dibuka melesat 1,49%, setelah selama dua hari tidak dibuka karena libur nasional.

Sedangkan sisanya dibuka di zona merah. Indeks Hang Seng Hong Kong dibuka ambruk 2.5%, Shanghai Composite China merosot 0,72%, Straits Times Singapura melemah 0,38%, dan KOSPI Korea Selatan terdepresiasi 0,19%.

Dari sisi data ekonomi, angka produksi industri Singapura periode Juni akan dirilis pada pukul 13:00 siang waktu setempat atau pukul 12:00 WIB.

Investor di Asia masih akan terus memantau perkembangan pandemi virus corona (Covid-19) di kawasan tersebut dan mungkin masih dapat membebani sentimen.

Menurut laporan dari agensi Korea Selatan Yonkap, tingkat pembatasan virus tertinggi kedua akan diterapkan ke area non-ibu kota mulai Selasa (27/7/2021) besok.

Sedangkan di Jepang, kasus harian Covid-19 di Tokyo telah melampaui 1.000 selama enam hari berturut-turut, menurut Kyodo News.

Sementara di Indonesia pada Minggu (25/7/2021), pemerintah kembali memperpanjang masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 selama sepekan hingga 2 Agustus mendatang.

Investor global mulai mengurangi investasinya di pasar negara berkembang dan mulai kembali melirik pasar saham AS karena membaiknya pasar saham Negeri Paman Sam tersebut.

Membaiknya pasar saham AS juga dibantu oleh rilis laporan keuangan perusahaan yang cukup positif pada kuartal kedua tahun 2021.

Beralih ke Amerika Serikat (AS), bursa saham Wall Street lagi-lagi ditutup cerah pada perdagangan Jumat (23/7/2021) akhir pekan lalu, di mana indeks Dow Jones, S&P 500 dan Nasdaq kompak mencetak rekor tertinggi baru.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,68% ke 35.061,55, yang merupakan level tertinggi sepanjang masa dan mencetak reli tahun berjalan sebesar 14%. S&P 500 melesat 1,01% ke level 4.411,79, dan Nasdaq melonjak 1,04% ke posisi 14.836,99.

Secara mingguan, Dow Jones menguat 1%, S&P 500 melesat 2%, sementara Nasdaq memimpin dengan reli 2,8% di tengah kenaikan kasus Covid-19 di berbagai negara yang memicu spekulasi bahwa saham teknologi bakal kembali diuntungkan dari pengetatan aktivitas publik.

“Kita menyaksikan selama di palung pandemi, saham teknologi dan laba bersih mereka meningkat pesat, jadi saya pikir banyak investor bakal kembali ke mata air tersebut, di tengah kenaikan kasus Covid,” tutur Yung-Yu Ma, Kepala Perencana Investasi BMO Wealth Management, kepada CNBC International.

Reli terjadi setelah kekhawatiran seputar imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS kian pudar. Pada Jumat pekan lalu, imbal hasil surat utang pemerintah AS bertenor 10 tahun-yang menjadi acuan-pasar menguat 0,014% menjadi 1,281%, atau pulih dari kejatuhannya di level terendah 5 bulan yakni 1,13%, yang dicetak pekan sebelumnya.

Penurunan imbal hasil tersebut sempat memicu kecemasan pasar mengenai adanya risiko besar yang membayangi perekonomian Negara Adidaya tersebut, sehingga para investor memburu obligasi yang dikenal sebagai aset investasi minim risiko (safe haven). Ketika obligasi diburu, maka harganya menguat dan imbal hasilnya turun.

Kinerja positif emiten unggulan selama kuartal II-2021 juga menjadi penopang reli di pasar. Dengan nyaris seperempat konstituen indeks S&P 500 merilis laporan keuangannya, sebanyak 88% dari itu membukukan lonjakan kinerja yang terbaik sejak 2008, menurut pantauan FactSet.

Refinitiv memperkitakan pertumbuhan laba bersih periode tersebut akan mencapai 76%, menjadi kinerja terbaik sejak 2009. Margin laba bersih mereka juga masih positif dan mengalahkan inflasi, dengan besaran rata-rata 12,8%, atau di atas rerata historinya, menurut S&P Global.

American Express melaporkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi, sehingga sahamnya melonjak 1,3%. Twitter dan Snap masing-masing melompat sebesar 3% dan 24% setelah membukukan laba bersih yang melampaui ekspektasi pasar.

TIM RISET CNBC INDONESIA

[Gambas:Video CNBC]

(chd/chd)



https://www.cnbcindonesia.com/market/20210726084043-17-263528/awal-pekan-bursa-asia-dibuka-melemah-nikkei-melesat-sendiri

RELATED ARTICLES

TNI AL Kukuhkan Dansatgas Pembangunan Kapal Fregat Teknologi Inggris

Kapal fregat AH140 buatan Babcock International Inggris, yang dikerjasamakan dengan PT PAL (Persero). Foto: Babcock InternationalMenteri Pertahanan Prabowo Subianto membawa teknologi kapal perang canggih...

Gempa Dewa Nilai Patroli Polisi Purworejo Picu Keresahan Warga Desa Wadas

TEMPO.CO, Jakarta - Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa...

Pemerintah perlu pertimbangkan lanjutkan moratorium sawit

Kita masih perlu moratorium jilid II. Kalau tidak dilanjutkan, negara dan petani justru akan mengalami banyak kerugianJakarta (ANTARA) - Pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan untuk...

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -

Most Popular

TNI AL Kukuhkan Dansatgas Pembangunan Kapal Fregat Teknologi Inggris

Kapal fregat AH140 buatan Babcock International Inggris, yang dikerjasamakan dengan PT PAL (Persero). Foto: Babcock InternationalMenteri Pertahanan Prabowo Subianto membawa teknologi kapal perang canggih...

Gempa Dewa Nilai Patroli Polisi Purworejo Picu Keresahan Warga Desa Wadas

TEMPO.CO, Jakarta - Gerakan Masyarakat Peduli Alam Desa...

Pemerintah perlu pertimbangkan lanjutkan moratorium sawit

Kita masih perlu moratorium jilid II. Kalau tidak dilanjutkan, negara dan petani justru akan mengalami banyak kerugianJakarta (ANTARA) - Pemerintah dinilai perlu mempertimbangkan untuk...

Recent Comments