Tiga Dekade Listing, Inilah Peluang BUMI untuk ‘Come Back’

0
445
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (tengah), Presiden Direktur PT BUMI Resources Tbk. Saptari Hoedaja (kanan), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Arifin Tasrif (kedua kiri) bersama Sekretaris Kabinet Indonesia Maju, Pramono Anung (kiri) dan Ketua IMA, Ido Hutabarat (kedua kanan) dalam malam penganugerahan IMA Award 2019. (Dok. BUMI Resources)
Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo (tengah), Presiden Direktur PT BUMI Resources Tbk. Saptari Hoedaja (kanan), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral RI, Arifin Tasrif (kedua kiri) bersama Sekretaris Kabinet Indonesia Maju, Pramono Anung (kiri) dan Ketua IMA, Ido Hutabarat (kedua kanan) dalam malam penganugerahan IMA Award 2019. (Dok. BUMI Resources)

Jakarta, CNBC Indonesia – Tiga dekade mencatatkan saham dan jatuh-bangun di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), raksasa batu bara nasional PT Bumi Resources Tbk (BUMI) “angkat sauh” menuju beyond coal (tak sekadar batu bara).

Tercatat di bursa pada 30 Juli 1990, BUMI semula adalah emiten properti bernama PT Bumi Modern yang mengelola hotel dan jasa wisata. BUMI mengajukan izin pencatatan saham perdana (Initial Public Offering/IPO) lewat surat nomor BM-17/J/90 pada 16 April 1990.

Permohonan IPO diajukan oleh AJB Bumiputera 1912 (Bumiputera) selaku pemilik 100% saham Bumi Modern, setelah membeli saham Bumi Modern lainnya milik pengusaha nasional Peter Sondakh dan H.A. Latief Thoyeb, masing-masing pada tahun 1983 dan 1985.

Izin IPO, atau pernyataan efektif, Otoritas Jasa Keuangan (dulu Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam) terbit pada 18 Juni 1990. Perseroan menawarkan 10 juta sahamnya (29% dari total saham disetor) seharga Rp 4.500 per unit, sehingga meraup dana segar Rp 45 miliar.

Izin IPO, atau pernyataan efektif, Otoritas Jasa Keuangan (dulu Badan Pengawas Pasar Modal/Bapepam) terbit pada 18 Juni 1990. Perseroan menawarkan 10 juta sahamnya (29% dari total saham disetor) seharga Rp 4.500 per unit, sehingga meraup dana segar Rp 45 miliar.

Pasca IPO, publik memiliki 29% saham BUMI dan 71% lainnya dipegang Bumiputera. Tiga tahun kemudian, investor kelas kakap masuk yakni PT Taspen (persero), PT Asuransi Sosial Tenaga Kerja (Astek)-kini PT Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) dan Pelician Holdings Limited.

Hingga tahun 1997, BUMI memiliki aset perhotelan berupa hotel bintang lima Hyatt Regency Surabaya, yang dikelola oleh Hyatt International Asia Pacific Limited. Di luar itu mereka memiliki aset perkantoran dan bisnis jasa pariwisata.

Perubahan drastis BUMI terjadi setelah pengusaha nasional Grup Bakrie masuk ke perseroan, mengubah secara radikal bisnis intinya, hingga membuat sahamnya meroket ke level tertinggi sepanjang sejarah pencatatannya.

Menurut neraca keuangan BUMI, Grup Bakrie mulai masuk menjadi pemegang saham perseroan pada 20 Juni 1997 atau ketika krisis keuangan Asia mendera, dan menjatuhkan harga aset-aset properti, termasuk yang dikelola Bumi Modern.

Di tengah kondisi krisis yang memicu likuiditas ketat, PT Bakrie Capital Indonesia (Bakrie Capital) masuk menjadi penyelamat dengan melakukan penawaran tender (tender offer) atas saham BUMI sebanyak 25%, setelah mengakuisisi 58,15% saham BUMI milik AJB Bumiputera.