Wednesday, July 28, 2021
Home MINING Tiga Dekade Listing, Inilah Peluang BUMI untuk 'Come Back'

Tiga Dekade Listing, Inilah Peluang BUMI untuk ‘Come Back’

Selanjutnya pada 29 Agustus 1997, Bakrie kembali memperoleh 33,9% saham BUMI milik Bumiputera. Dus, Bakrie Capital memegang 58,9% saham BUMI yang saat itu masih merupakan perusahaan yang bergerak di bisnis perhotelan dan pariwisata.

Dengan kepemilikan di atas 51%, maka Grup Bakrie resmi menjadi pengendali perusahaan tersebut. Di bawah kepiawaian Nirwan Bakrie, BUMI yang telah memiliki aset KPC dan Arutmin terus berkembang menjadi eksportir terbesar batu bara nasional.

Di bawah tangan dingin keluarga Bakrie, BUMI hijrah dari bisnis properti ke bisnis minyak, gas alam dan pertambangan dengan akuisisi aset tambang raksasa. Dari Gallo Oil pada 2000, hingga Arutmin pada 2004 serta Kaltim Prima Coal (KPC) pada 2005.

BUMI kian berkembang menjadi perusahaan berskala global menyusul masuknya investor-investor kelas kakap dunia. Sebut saja grup konglomerasi asal India, yakni Tata Power. Berbasis di negara konsumen terbesar batu bara kedua dunia, Grup Tata pada 2007 meneken kesepakatan untuk mempertahankan kepemilikan mayoritas di KPC sebesar 65%.

Pada 2009, investor besar asal Negeri Tirai Bambu yakni China Investment Corporation (CIC) berinvestasi senilai US$ 1,9 miliar dalam bentuk utang. Belakangan, sebagian utang dikonversi menjadi saham sehingga CIC menjadi pemegang saham pengendali (dengan porsi 22,7%).

Mereka memilki saham BUMI melalui HSBC Funds dengan jumlah nominal saham setara 14,85 miliar unit saham. Sisanya atau 77,29% (setara 50,53 miliar saham) merupakan saham publik. Lalu berapa banyak saham BUMI yang dimiliki Bakrie? Direktur Bumi Resources Dileep Srivastava menyebutkan angkanya berkisar 17%, tapi tidak terkonsolidasi menjadi satu.

Dengan demikian, kiprah Bakrie di BUMI kini tidak lagi absolut, melainkan bersifat collective collegial, diputuskan bersama-sama dengan CIC dan Tata, yang notabene merupakan perusahaan kelas dunia yang sama-sama menggeluti industri batu bara.

Dengan dukungan kedua investor tersebut, BUMI mengamankan pasar utama batu bara konvensional dunia, yakni China dan India, selain pasar batu bara dalam negeri. Tidak berhenti sampai di sana, BUMI kini menggarap batu bara bersih, dengan program hilirisasi.

RELATED ARTICLES

Industri Keuangan Syariah RI Naik Peringkat ke-2 Dunia

Jakarta, CNN Indonesia -- Islamic Finance Development Indicator (IFDI) menempatkan industri keuangan syariah Indonesia di posisi kedua dunia pada tahun ini atau naik 2 peringkat...

Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia masih Aman

(Bandung 11/11) Vaksin Covid-19 hasil kolaborasi pengembangan Bio Farma dengan Sinovac, saat ini sudah mulai memasuki masa monitoring. Data per 6 November...

Tumpengan Nih! TLKM Ganti Nama jadi Telkom Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia - Emiten telekomunikasi BUMN, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk berganti nama perusahaan menjadi PT Telkom Indonesia Tbk (Persero) dengan kode saham tetap...

Most Popular

Jasa Raharja, Kemenhub, Marinir AL Beri Bantuan di Pelabuhan Merak

INFO NASIONAL – PT Jasa Raharja bersama Kementerian Perhubungan dan  Korps Marinir Angkatan Laut memberi bantuan sosial kepada masyarakat di sekitar Pelabuhan Merak. Selain...

KKP bantu akses induk udang unggul ke pembudidaya skala rumah tangga

Memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan akan benih bermutu menjadi salah satu program Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam misi untuk meningkatkan produksi ikan berkualitas di masyarakatJakarta...

Katanya The Fed Mau Kasih Sinyal Tapering, Rupiah Apa Kabar?

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah berakhir...

Recent Comments