Kirim Rilis
Simbol RilisianarilisianaRUMAH RILIS KITA
SIARAN PERS RESMI ✎ BAHASA MANUSIA ✎ DARI DOKUMEN ASLINYA ✎ BUKAN KATANYA ✎ SIARAN PERS RESMI ✎ BAHASA MANUSIA ✎ DARI DOKUMEN ASLINYA ✎ BUKAN KATANYA ✎  
Depan · Lembaga & Regulator
Lembaga & Regulator · SIARAN PERS

Hilirisasi Harus Adil dan Merata

Badan Riset dan Inovasi Nasional · Siaran Pers No. 138/SP/HM/BKPUK/XI/2026 · Kamis, 5 November 2026

Pada Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026 di Jakarta, Kamis (5/11/2026), BRIN bersama Koalisi ResponsiBank Indonesia menegaskan hilirisasi mineral kritis harus dibarengi tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab dan pemerataan manfaat ekonomi bagi warga.

Panggung besar Indonesia

Indonesia pemasok nikel utama dunia: produksi bijih 2,6 juta ton pada 2025, cadangan 62 juta ton. Investasi pengolahan mineral 2025 mencapai Rp584,1 triliun (tumbuh 43,3%). Pemerintah membentuk PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dan Badan Industri Mineral. Kebutuhan mineral kritis dunia diproyeksikan naik hampir tiga kali lipat pada 2030.

Harga yang dibayar warga

Ekspansi tambang menyisakan bencana ekologis di kawasan nikel Sulawesi Tengah dan tekanan atas ruang hidup masyarakat adat O'Hongana Manyawa di Halmahera Tengah. Kemnaker mencatat 104 kecelakaan industri nikel pada 2019–2025 dengan 107 korban jiwa; longsor tambang Freeport September 2025 menewaskan tujuh pekerja.

Empat agenda yang didorong

Forum mendorong pelibatan generasi muda dalam kebijakan transisi energi, pengawasan masyarakat sipil atas pembiayaan mineral kritis, standar bisnis dan rantai pasok yang bertanggung jawab, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil bagi daerah penghasil dan warga terdampak. Hasilnya menjadi rekomendasi kebijakan bersama.

Sketsa pensil Victoria Fanggidae, Koordinator Koalisi ResponsiBank Indonesia

“Keberhasilan hilirisasi tidak cukup diukur dari besarnya investasi dan nilai ekspor. Pemerataan manfaat ekonomi serta perlindungan masyarakat terdampak harus menjadi indikator penting.”

— Victoria Fanggidae, Koordinator Koalisi ResponsiBank Indonesia

Dokumen Asli

Lewat siaran pers ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyampaikan pesan utama dari Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026 yang digelar bersama Koalisi ResponsiBank Indonesia di Jakarta pada Kamis, 5 November 2026: percepatan hilirisasi mineral kritis tidak boleh hanya mengejar angka investasi dan nilai tambah, melainkan harus dibarengi tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab serta pemerataan manfaat ekonomi bagi warga. BRIN mengingatkan posisi Indonesia memang besar — pemasok nikel utama dunia dengan produksi bijih 2,6 juta ton pada 2025 dan cadangan 62 juta ton, ditopang investasi pengolahan mineral Rp584,1 triliun yang tumbuh 43,3 persen serta pembentukan PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) dan Badan Industri Mineral — sementara kebutuhan mineral kritis dunia diproyeksikan naik hampir tiga kali lipat pada 2030.

Namun forum juga menyoroti harga yang dibayar dari ekspansi tambang: bencana ekologis di kawasan nikel Sulawesi Tengah, tekanan atas ruang hidup masyarakat adat O'Hongana Manyawa di Halmahera Tengah, dan catatan Kemnaker tentang 104 kecelakaan industri nikel pada 2019–2025 yang menelan 107 korban jiwa, termasuk longsor tambang Freeport pada September 2025 yang menewaskan tujuh pekerja. Karena itu forum mendorong empat agenda — pelibatan generasi muda dalam kebijakan transisi energi, pengawasan masyarakat sipil atas pembiayaan mineral kritis, standar bisnis dan rantai pasok yang bertanggung jawab, serta mekanisme pembagian manfaat yang adil bagi daerah penghasil dan warga terdampak — yang hasilnya dirumuskan menjadi rekomendasi kebijakan bersama. Teks lengkap siaran pers tersedia di situs resmi BRIN pada tautan sumber resmi di bawah.

Sumber resmi: https://www.brin.go.id/press-release/131323/hilirisasi-mineral-kritis-perlu-komitmen-tata-kelola-lingkungan-dan-pemerataan-ekonomi

Caption Instagram

Hilirisasi mineral kritis jangan cuma mengejar investasi.

Dalam Forum Mineral Kritis Multipihak Indonesia 2026 di Jakarta, @brin_indonesia bersama Koalisi ResponsiBank Indonesia menegaskan hilirisasi harus dibarengi tata kelola lingkungan yang bertanggung jawab dan pemerataan manfaat ekonomi. Di balik investasi pengolahan mineral Rp584,1 triliun pada 2025, ada 107 korban jiwa kecelakaan industri nikel dalam enam tahun dan ruang hidup masyarakat adat yang tertekan.

Forum ini mendorong empat agenda: pelibatan generasi muda, pengawasan masyarakat sipil atas pembiayaan, standar rantai pasok yang bertanggung jawab, dan pembagian manfaat yang adil bagi daerah penghasil.

Berdasarkan Siaran Pers BRIN No. 138/SP/HM/BKPUK/XI/2026, 5 November 2026.
Rilis lengkap: https://www.brin.go.id/press-release/131323/hilirisasi-mineral-kritis-perlu-komitmen-tata-kelola-lingkungan-dan-pemerataan-ekonomi

#BRIN #Hilirisasi #MineralKritis #Nikel #TransisiEnergi #Rilisiana #SiaranPers

Di Instagram

Artikel ini juga terbit sebagai carousel di Instagram @rilisiana.id.

Kontak Media Penerbit

Public Relations BRIN

Instagram@brin_indonesia
WhatsApp+62 811-1933-3639
Email[email protected]
AlamatJl. M.H. Thamrin No. 8, Jakarta Pusat 10340

Artikel Terkait — Lembaga & Regulator